Selasa, 27 Oktober 2009

LAPORAN OCEANOGRAFI

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari lautan. Ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu lain yang termasuk di dalamnya ialah ilmu tanah (geology). Ilmu bumi (geography). Ilmu fisika (physics), ilmu kimia (chemistry). Ilmu hayat (biology) dan ilmu iklim (metereology) (Hutabarat, 1985).
Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup. Biota laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai, permukaan laut sampai dasar laut yang teluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia (Romimohtarto, 2001).







Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum oceanografi ini adalah agar praktikan mengetahui dan memahami tentang ilmu oceanografi serta mengetahui dan memahami macam-macam parameter kualitas air baik parameter fisika maupun parameter kimia.
Tujuan dari praktikum oceanografi ini adalah agar praktikan mampu melakukan pengukuran parameter kualitas air baik parameter fisika maupun parameter kimia.

Waktu dan Tempat
Praktikum oceanografi ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 20 mei 2009, pukul 07.00-selesai.
Tempat Praktikum oceanografi ini adalah di Pelabuhan Tanjung Tembaga Kabupaten Probolinggo Propinsi Jawa Timur.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perairan Laut
Lingkungan laut sangat luas cakupannya dan sangat majemuk sifatnya. Karena luasnya dan majemuknya lingkungan tersebut. Tiada satu kelompok biota laut pun yang mampu hidup disemua bagian lingkungan laut tersebut dan disegala kondisi lingkungan yang berbeda-beda kedalam lingkungan-lingkungan yang berbeda pula. Para ahli oseanologi membagi-bagi lingkungan laut menjadi zona-zona atau yang memintakat-mintakat menurut kreteria-kreteria yang berbeda (Romimohtarto,2001).
Laut merupakan suatu tempat mata pencarian bagi orang-orang asia tenggara yang telah berumur berabad-abad lamanya. Tidak dimana pun juga hal ini benar-benar dapat dilihat diIndonesia dimana Negara ini terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau yang tersebar. Kebanyakan penduduk yang berjumlah 140.000.000 bertempat timggal berbatasan dengan lautan. Sejak dahulu lautan telah memberi manfaat kepada manusia untuk dipergunakan suatu sarana untuk berpergian, perniagaan dan perhubungan dari suatu tempat ketempat lain. Akhir-akhir ini diketahui bahwa lautan banyak mengandung sumber-sumber alam yang berlimpah-limpah jumlahnya dan bernilai berjuta-juta dolar (Hutabarat,1985).
2.2 Parameter Fisika
2.2.1 Suhu
Suhu merupakansalah satu faktor utama yang mempengaruhi penyebab jasad-jasad laut. Jasad-jasad yang mampu mempertenggang jangka suhu yang nisbi luas diistilahkan sebagai euritermal yang terbatas kepada jangka suhu yang sangat sempit disebut stenotermal. Beberapa jenis diantaranya lebih euritermal pada tahap-tahap tertentu dari kehidupannya dari pada yang lain-lain (Bayard,1983).
Suhu air mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pertukaran zat atau metabolisne dari makhluk-makhluk hidup. Keadaan ini yang jelas terlihat dari jumplah plankton didaerah-daerah yang beriklim sedang lebih banyak daripada didaerah-daerah yang beriklim panas (Asmawi,1986).
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi kecepatan aktivitas proses metabolisme. Suhu air mempunyai arti penting bagi organisme perairan karena berpengaruh terhadap laju metabolisme dan pertumbuhan. Suhu bagi hewan poikilotermik merupakan faktor pengontrol (controlling factor) yaitu pengendali kecepatan reaksi kimia didalam tubuh termasuk prosses metabolisme. Foresberg dan summerfelt (1998) menyatakan bahwa meningkatkannya suhu akan mempercepat kelangsungan proses metabolisme (Widiyati, 2005).

2.2.2 Kecerahan
Dengan mengetahui kecerahan suhu perairan,kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air. Lapisan-lapisan manakah yang tidak keruh,yang agak keruh dan yang paling keruh,serta lain sebagainya. Air yang tidak terlampau keruh dan yang tidak terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan.Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik dan plankton. Nilai kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan adalah lebih besar dari 45 cm. Karena kalau lebih kecil dari nilai tersebut batas pandangan ikan akan berbeda (Asmawi,1986).
Kecerahan merupakan gambaran kedalaman air yang dapat ditembus oleh cahaya dan umumnya tampak secara kasatmata kecerahan air tegantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan pada suatu perairan sangat erat kaitannya dengan proses fotosintesis yang terjadi secara alami. Menurut Nybakken (1992),fotosintesis hanya dapat berlangsung bila intensitas cahaya yang sampai ke suatu sel alga lebih besar dari intensitas disuatu perairan (Anonymous a,2009).

2.2.3 Pasang Surut
Pasang surut (pasut) merupakan salah satu gejala laut yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan biota laut,khususnya diwilayah pantai. Pasang surut terjadi partama-tama karena gaya tarik (gaya gravitasi) bulan. Bumi berputar kolam air dipermukaannya dan menghasilkan dua kali pasang dan dua kali surut dalam 24 jam dibanyak tempat dibumi kita ini. Berbagi pola gerakan pasut ini terjadi karena perbedaan posisi sumbu putar bumi dan bulan karena berbeda-bedannya bentuk dasar laut dan karena banyak hal lain lagi (Romimohtarto,2001).
Naik dan turunnya permukaan laut secara periodik selama suatu interval waktu tertentu disebut pasang surut. Pasang surut merupakan faktor lingkungan yang paling penting yang mempengaruhi kehidupan dizona intertidal / tanpa adanya pasang surut atau hal lain yang menyebabkan naik dan turunnya permukaan air secara periodik zona ini tidak akan seperti itu. Dan faktor-faktor lain akan kehilangan pengaruhnya. Ini disebabkan kisaran yang luas pada banyak faktor fisik akibat hubungan langsung yang bergantiaan antara keadaan terkena udara terbuka dan keadaan yang terendam air. Jika tidak ada pasang surut fluktuasi yang besar ini tidak akan terjadi (Nybakken,1988).


2.2.4 Gelombang
Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin diatas permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tanggensial pada partikel air. Angin yang bertiup dipermukaan laut mula-mula menimbulkan riak gelombang (ripples). Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut merata kembali. Tetapi jika angin bertiup lama maka riak gelombang akan hilang dan prmukaan gelombang merata kembali. Tetapi angin ini bertiup lama maka riak gelombang membesar terus walaupun kemudian anginya berhenti bertiup. Setelah meninggalkan daerah asal bermula tiupan angin, maka gelombang merata menjadi ombak sederhana (Romimohtarto, 2001).
Gelombang selalu menunjukkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti-henti pada lapisan permukaan laut dan jarak dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan sepoi-sepoi menimbulkan pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup untuk dapat menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang besar yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat pada kapal-kapal atau daerah-daerah pantai (Hutabarat,1985).
Secara ekologis gelombang paling penting dimintakan pasang surut dibagian yang agak dalam pengaruhnya menggurang sampai kedasar,dan diperaiaran oseanik ia mempengaruhi peretukaraan udara dan agak dalam gelombang ditimbulkan oleh angin, pasang surut dan kadang-kadang oleh gempa bumi dan gunung meletus (dinamakan tsunami). Gelombang mempunyai sifat penghancur, biota yang hidup dimintakat pasang surut harus mempunyai daya tahan terhadap pukulan gelombang (Anonymous b, 2009).

2.2.5 Kecepatan arus
Arus laut permukaan merupakan pencrminan langsung dari pelangi yang bertiup pada waktu itu. Jadi arus permukaan digerakkan oleh angin. Air dilapisan bawahnya ikut terbawa karena adanya gaya coriolis yakni gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi, maka arus dilapisan permukaan laut berbelok kekanan dari arah angina dan arus permukaan (Romimohtarto, 2001).
Arus mempunyai pengaruh positif maupun negative terhadap kehidupan biota perairan. Arus dapat mengakibatkan luasnya jaringan. Jaringan jasad hidup yang tumbuh didaerah itu dan partikel-partikel dalam supensi dapat menghasilkan pengkikisan. Diperairan dengan dasar Lumpur arus dapat mengaduk endapan Lumpur-lumpuran sehinga mengakibatkan kekeruhan air dan mematikan binatang juga kekeruhan yang diakibatkan bisa mengurangi penetrasi sinar matahari dan karenanya mengurangi aktivitas fotosistesis.manfaat dari arus bagu banyak biota adalah menyangkut penambahan makanan bagi biota-biota tersebut dan pembunggan kotoran-kotoranya (anonymous c, 2009).

2.2.6. Sifat Optis Air
Sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari. Hal ini berkaitan dengan besar sudut penyinaran yang dibentuk. Cahaya yang tiba dipermukaan air sebagian akan dipantulkan sebagian akan diteruskan. Pada perairan laut yang bergelombang cahaya sebagian dipantulkan dihamburkan, sinar yang diteruskan sebagian akan diabsorbsi (Wikipedia, 2009).
Sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari, semakin lama matahari berada, sifat optis air dimiliki semakin besar sudut datang semakin besar. Intensitas matahari semakin besar maka sifat air akan bervariasi (Nybakken, 1988).

2.3 Parameter Kimia
2.3.1 pH
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidakseimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6,0-8,5 (Anonymous b, 2009).
pH merupakan suatu ekspresi dan konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam air. Besarnya dinyatakan dalam minus logaritma dan konsentrasi ion H. Tidak semua makhluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH. Untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan. Sistem pertahanan ini dikenal sebagai kapasitas pem-buffer-an pH sangat penting sebagai parameter kualitas air. Karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air (Anonymous c, 2009).
Konsentrasi ion zat cair dalam laut yang dinyatakan dengan pH pada konstan, berbeda-beda antara 7,6 dan 8,3. Penyanggan terutama merupakan hasil dari keseimbangan karbondioksida asam karbonat dan keseimbangan bikarbonat. Efek penyangga dari partikel tanah padat yang halus dan lebih kurang ukurannya, asam borat. Pada nilai pH yang lebih tinggi pengendapan kalsium karbonat dimudahkan (Zottoli, 2000).

2.3.2 Salinitas
Untuk mengukur asinnya air laut maka digunakan istilah salinitas. Salinitas merupakan takaran bagi keasinan air laut. Satuannya promil (0/00) dan simbol yang dipakai adalah S 0/00. Salinitas didefinisikan sebagai berat zat padat terlarut dalam gram perkilogram air laut. Jika zat padat telah dikeringkan sampai bertanya tetap pada 4800C. Dan jumlah klorida dan bromida yang hilang diganti dengan sejumlah kalor yang ekuivalen dengan bara kedua halida yang hilang. Singkatnya salinitas adalah berat garam dalam gram perkilogram air laut. Salinitas ditentukan dengan mengukur klor yang takarannya adalah klorinitas, dengan rumus :
S 0/00 = 0,03 + 1,805 CI 0/00 (Romimohtarto, 2001).
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya, sebagai berikut :
1.) Pola sirkulasi air
2.) Penguapan
3.) Curah hujan
4.) Arah aliran sungai (Nontji, 1986)

2.3.3. DO
DO (Disolved Oxygen) menunjukkan kandungan oksigen terlarut dalam air. Banyak sedikitnya kandungan oksigen dapat dipakai untuk menunjukkan banyak sedikitnya air. Angka DO yang kecil menunjukkan bahwa banyak pengotor atau bahan organik dalam air (Anonymous c , 2009).
Oksigen terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya dapat hidup dalam keadaan anaerobic hanya sebentar tetapi memerlukan penyediaan O2 yang berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali (Anonymous b, 2009).
Oksigen merupakan salah satu unsur kimia yang penting bagi kehidupan. Dalam air laut oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk proses respirasi dan menguraikan zat organik oleh mikrorganisme. Oksigen terlarut juga sangat penting dalam mendeteksi adanya pencemaran lingkungan perairan. Karna oksigen dapat digunakan untuk melihat perubahan biota dalam perairan. Adapun kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu, tekanan partikel gas yang ada di udara dan di air. Kadar garam terlarut dan adanya senyawa atau unsur yang teroksidasi dalam air. Semakin tinggi suhu, salinitas, dan tekanan gas yang terlarut dalam air maka kandungan oksigen makin berkurang. Kandungan oksigen terlarut ideal bagi biota diperairan adalah mencapai antara 4,0 – 10,5 mg/l pada lapisan permukaan dan 4,3 – 10,5 mg/l pada kedalaman 10 meter (Supriyadi, 2002).








III. METODOLOGI

3.1 Alat dan Fungsi
3.1.1 Parameter Fisika
 Suhu
Thermometer Hg :berfungsi sebagai pengukur suhu perairan yang akan diamati

 Kecerahan
Secchi disk :sebagai alat pengukur suatu kecerahan di perairan
Tongkat skala :untuk menghitung d1 dan d2
Selotip :untuk membatasi tanda pada D1 dan D2

 Pasang surut
Tide staff :untuk mengukur pergerakan pasang surut

 Gelombang
Tongkat skala :untuk mengukur ketinggian gelombang yang datang
Stopwatch :untuk mengukur selisih dan lamanya gelombang yang datang
 Kecepatan arus
Tali raffia :untuk menghubungkan 2 botol kosong
2 buah botol air :sebagai pelampung dan
Mineral (@600ml) pemberat
Stopwatch :untuk mengukur lama kecepatan arus
Kompas :sebagai penunjuk arah dan menentukan arah arus

 Sifat optis air
Secchi disk :untuk mengukur kecerahan suatu perairan
Tongkat skala :untuk menghitung nilai D1 dan D2
3.1.2 Parameter Kimia
 pH.
Kotak standar pH :untuk mencocokan perubahan warna pada pH paper
pH paper :untuk mengukur kadar ph di perairan.





 Salintas
Refraktometer :untuk mengukur salinitas suatu perairan
Pipet tetes :untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil

 DO
Botol DO :untuk mengambil air sampel dari perairan untuk pengukuran DO
Water sampler :membantu pengambilan air sampel dari perairan untuk pengukuran DO
Pipet tetes :untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil
Buret :untuk tempat larutan titran dan titrasi
Statif :sebagai penyangga buret
Selang :untuk mengambil air jernih diatas endapan coklat
Pipet volume :untuk mengambil larutan dengan volume 0,1-10ml
Corong :untuk membantu memasukkan larutan titran ke buret.


3.2 Bahan dan Fungsi
3.2.1 Parameter Fisika
 Suhu
Air laut :sebagai objek pengukuran suhu suatu perairan
 Kecerahan
Air laut :untuk objek yang di ukur kecerahannya
 Pasang surut
Air laut :untuk objek pengukuran pasang surut
 Gelombang
Air laut :sebagai objek pengukuran gelombang
 Kecepatan arus
Air laut :sebagai objek pengukuran kecepatan arus
 Sifat optis air
Air laut :sebagai objek pengukuran sifat optis air
3.2.2 Parameter Kimia
 Pengukuran pH
Air laut :sebagai objek pengukuran pH air laut
 Salinitas
Air laut :sebagai objek yang akan diamati salinitasnya
Aquades :sebagai kalibrasi refraktometer
Tissue :untuk membersihkan kaca refraktometer secara searah

 Pengukuran DO
Air sampel :bahan yang akan diukur DOnya
MnSO4 :untuk mengikat O2 dalam larutan
NaOH+KI :melepas I2 dan membentuk endapan coklat
Amilum :indicator suasana basa/ indicator warna ungu
Na thiosulfat :sebagai titran
H2SO4 :untuk pengkondisian suasana asam dan melarutkan endapan coklat

3 . 3 Skema Kerja
3.3.1 Parameter Fisika
3.3.1.1 Suhu
Thermometer Hg
- Di celupkan Thermometer pada perairan 2-3 menit
- Di biarkan beberapa saat
- Di angkat dan secepatnya di baca nilai skala pada suhu
- Di catat hasilnya
Hasil


3.3.1.1 Kecerahan
Sechidisk
- Di turunkan sehidisk pelan-pelan dalam perairan
- Di amati sampai tidak tampak pertama kali
- Di beri tanda pada tali dengan karet gelang , di catat panjangnya (sebagai D1)
- Di turunkan lebih dalam lagi hingga benar-benar tidak tampak
- Di catat panjangnya (sebagai D2)
- Di hitung kecerahan dengan rumus D = D1 + D2 / 2
Hasil
3.3.1.3 Pasang Surut
Tide staff
- Di pasang di daerah pasang surut yang masih terendam air dengan surut terendah
- Di catat tinggi permukaan laut mula-mula (sebagai T0) cm
- Di biarkan selama 1-2 jam
- Di catat tinggi permukaan air laut (sebagai T1) cm
- Di hitung kecepatan pasang surut tersebut (cm/jam)
Hasil
3.3.1.4 Gelombang
a) Tinggi Gelombang
Tongkat Skala
- Di tancapkan Tongkat skala pada air
- Di ukur tinggi gelombang secara visual
- Di catat tinggi puncak gelombang dan lembah gelombang
- Di ulang percobaan selama 3x
Hasil
b) Periode gelombang
Tongkat Skala
- Di tancapkan tongkat skala dlm air
- Di ukur dan di catat lama waktu yang di perlukan
- Puncak gelombang 1 dengan gelombang 2 untuk melewati tongkat skala
- Di ulang percobaan sebanyak 3x
Hasil








3.3.1.5 Kecepatan Arus
Tali plastik
- Di hubungkan tali raffia dengan botol bekas dengan jarak 30cm antara botol 1 dengan botol 2
- Panjang tali 10-15m
- Botol pertama di isi air dan botol kedua di biarkan kosong
- Di hanyutkan botol mengikuti arus
- Di catat waktu yang di butuhkan untuk menempuh jarak 15m
- Di hitung kecepatan dengan arus dengan rumus V = s/t
- Di catat dengan satuan m/s
Hasil











3.3.1.6 Sifat Optis Air
Sechidisk
- Di turunkan pelan-pelan ke dalam perairan
- Di catat waktunya saat di turunkan
- Di amati sampai tidak tampak pertama kali
- Di beri tanda pada tali dengan karet gelang , di catat panjangnya (sebagai D1)
- Di turunkan lebih dalam lagi hingga benar-benar tidak tampak
- Di catat panjangnya (sebagai D2)
- Di hitung kecerahan dengan rumus D = D1 + D2 / 2
- Di ulang setelah 1jam
- Di catat hasilnya
Hasil

3.3.2 Parameter Kimia
3.3.2.1 PH
PH Paper
- Di celupkan PH paper ke dalam sampel air
- Di keringkan
- Di cocokan dengan warna standart yg ada di kotak
Hasil
3.3.2.2 Salinitas
Refraktometer
- Di bersihkan membrane refraktometer dengan aquades dan di keringkan dengan tissue
- Di ambil air laut dengan menggunakan pipet tetes
- Di teteskan 2 tetes pada membran Refraktometer
- Membran di tutup dengan penutupnya tanpa trjadi gelembung
- Di arahkan menuju cahaya
- Di lihat nilai salinitas langsung di baca pada tensa refraktometer
- Di catat hasilnya
Hasil


3.3.2.3 Botol DO
Water Sampler
- Di catat volume DO yang akan di gunakan
- Di masukan ke dalam water sampler
- Di tutup rapat
- Di tutup selang air
- Di masukan ke dalam perairan sampai ke dalaman tertentu
- Di tunggu sampai terdengar bunyi “blup”
- Di angkat dalam perairan
- Di tutup botol DO dalam air
- Di keluarkan water sampler
- Di tambahkan 2ml muSo4 x 2ml NaOh + Kl
- Di homogenkan
- Di biarkan 30 menit sampai terbentuk endapan coklat
- Di tambahkan 2ml H2So4 pekat
- Di homogenkan sampai endapan coklat larut
- Di tambahkan 3-4 tetes amium lalu di homogenkan
- Di titrasi dengan NaS2O3 0,25N sampai bening pertama kali
- Di catat volume NaS2O3
- Di lakukan perhitungan Do dengan rumus Do = V titran + N titran x 1000 x 8 / V botol . Do-4
Hasil


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Data Hasil Pengamatan
1. Kecepatan Arus
Hasil pengukuran kecepatan arus adalah:
Panjang tali (s) : 5 m
Lama Waktu (t) : 43,7 s
Kecepatan Arus (v) : = = 0,11
Arah Arus : dari Barat Daya menuju Tenggara

2. Kecerahan
Hasil pengukuran kecerahan adalah :
Kedalaman secchidisk (mulai tidak tampak) : 613 cm
Kedalaman secchidisk (mulai tampak) : 549 cm
Nilai Kecerahan :

= 518 cm

3. Suhu
Hasil pengukuran suhu didapatkan hasil, suhu perairan saat itu sebesar 32ºC
4. Salinitas
Hasil pengukuran salinitas didapatkan nilai salinitas perairan sebesar 30 ppt.

5. Derajat Keasaman (pH)
Hasil pengukuran derajat keasaman didapatkan data yaitu pH 9

6. Sifat Optis Air
Hasil pengukuran sifat optis air sebagai berikut :
Kecerahan pada pukul 12.00 WIB = 518 cm
Kecerahan pada pukul 13.00 WIB = 707,5 cm
α = Pengukuran I
β = Pengukuran II
α=12.00-06.00
= 6 jam 12.00
=6×15º 13.00
= 90º
β = 13.00-06.00 16.00 β α 18.00
= 7 jam
= 7×15º
= 105º
Keterangan : garis biru adalah alpa α
garis merah adalah betta β
Sifat optis air adalah 105 º
Kesimpulan : kecerahan paling tinggi yaitu pada β dengan besar sudut 105º, karena merupakan kecerahan paling tinggi dari pada α dengan besar sudut 90º
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari. Kecerahan pada suatu perairan erat kaitannya dengan proses fotosintesis (Anonymous b2009).

7. Gelombang
Hasil pengukuran gelombang didapatkan data snagai berikut :
I II III
Puncak (t0) 40 cm 42 cm 40 cm
Lembah (t1) 35 cm 39 cm 38 cm
Selisih (h) 5 cm 3 cm 2 cm
Periode gelombang (s) 0,15 s 0,19 s 0,18 s

Rata-rata tinggi gelombang =
= = 3,33 cm


Rata-rata periode gelombang = = = 0,17 s
8. Pasang Surut
Hasil pengukuran pasang surut didapatkan data sebagai berikut :
Pasang tertinggi (d1) = 80 cm
Pasang terendah (d2) = 22 cm
Lebar pasang surut = 0,58 m
Selang waktu pengukuran = 5 jam
Kecepatan pasang surut
V = =

9. Oksigen Terlarut
Hasil pengukuran DO = 5,67
Diket : V botol DO = 286 ml
V Titran V1 = 31,5 ml
V2 = 23,5 ml
N titran = 0.025 N
DO=
= = 5,67

Analisa Prosedur
Parameter Fisika
Suhu
Pada pengukuran suhu, alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah termometer Hg, pengukuran suhu dilakukan dengan cara mencelupkan termometer secara langsung kepermukaan air, agar suhu yang diperoleh tidak terkena pengaruh dari suhu tubuh, pada saat pengukuran tangan atau jari memegang tali yang berada diujung termometer dan membelakangi matahari. Hal tersebut dilakukan agar suhu yang diperoleh tidak terkena pengaruh dari lingkungan. Termometer didiamkan selama ± 2-3 menit, pembacaan skala dilakukan dengan cepat, dengan kondisi termometer tetap terendam. Pemberian selang waktu bertujuan untuk menyetabilkan termometer dan agar suhu yang didapat benar – benar akurat dan tidak terkena pengaruh lingkungan, hasil pengamatan dicatat pada lembar data lapang.





4.2.1.1 Kecepatan Arus
Pada pengukuran kecepatan arus, alat yang digunakan adalah dua buah botol plastic ukuran 600 ml, tali rafia, stopwatch, kompas, dan bahan yang digunakan adalah air lokal. Pertama-tama botol diikat dengan tali rafia yang panjangnya 30 cm dan diikatkan dengan botol kedua, setelah itu dari botol kedua diikatkan tali rafia sepanjang 5 m. Pada botol pertama diisi dengan air lokal yang berfungsi sebagai pemberat, sedangkan botol kedua dibiarkan kosong yang berfungsi sebagai pelampung. Panjang tali rafia merupakan jarak tempuh arus. Botol dimasukkan kedalam perairan bersamaan dengan diaktifkannya stopwatch, botol dibiarkan terbawa arus hingga tali meregang, waktu dari pencelupan botol hingga tali meregang merupakan waktu tempuh arus. Kecepatan arus dapat diketahui dengan cara membagi jarak (panjang tali) dengan waktu (selang waktu yang dibutuhkan tali hingga meregang). Kompas digunakan untuk mengetahui arah arus.







4.2.1.3 Pasang Surut
Pada pengukuran pasang surut alat yang digunakan adalah tide staff. Tongkat tide staff berskala 2 meter dan diberi tanda pada tiap sentinya, tide staff ditancapkan pada daerah yang masih tergenang saat pasang terendah, pada saat praktikum tide staff ditancapkan pada jarak 50 m dari pantai. Tinggi permukaan air pada tide staff dicatat sebagai tinggi pemukaan mula-mula (t0). Setelah itu tide staff dibiarkan hingga pasang terendah. Setelah selang waktu 5 jam, ketinggian permukaan air pada tide staff dilihat kembali dan dicatat sebagai (t1). Selisih dari (t0-t1) merupakan nilai kecepatan pasang surut setelah dibagi lama atau waktu pasang surut.

4.2.1.2 Gelombang
Pada pengukuran gelombang, alat yang digunakan adalah tongkat berskala 2 m, dan stopwatch. Pengukuran dilakukan saat pasang terendah, tongkat dicelupkan keair. Pengukuran gelombang dilakukan secara konvensional dan langsung. Gelombang yang datang dicatat tinggi puncak dan lembahnya, pengukuran dilakukan dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Agar data yang diperoleh lebih valid. Untuk mengetahui periode gelombang dihitung lamanya waktu yang diperlukan antara puncak gelombang dengan lembah gelombang untuk melewati tongkat skala tersebut, pengukuran dilakukan dengan pengulangan sebanyak tiga kali untuk mengurangi kesalahan pengukuran. Agar pengamatan yang dilakukan lebih mudah diukur gelombang yang cukup besar.

4.2.1.3 Kecerahan
Pada pengukuran kecerahan alat yang digunakan adalah secchidisk, penggaris, karet gelang dan tali. Secchidisk dicelupkan kedalam air, terus dimasukkan hingga tidak terlihat untuk pertama kali, dicatat kedalamannya dengan menandai tali (d1), setelah itu secchidisk dimasukkan lebih kedalam hingga benar-bnar tidak terlihat dan nampak kembali untuk pertama kali, dicatat kedalamannya sebagai d2, setelah itu diukur kecerahannya yaitu jumlah antara d1 dan d2 dibagi 2 ( ).

4.2.1.4 Sifat Optis Air
Pada pengukuran sifat optis air, alat yang dibutuhkan sama dengan yang digunakan untuk mengukur kecerahan, yaitu secchidisk, penggaris, dan karet gelang. Hal yang pertama dilakukan sama dengan pada praktikum pengukuran kecerahan, untuk itu agar lebih menghemat waktu data kecerahan digunakan sebagai data pertama (D1) pada pengkuran sifat optis air. Untuk data kedua dilakukan pengukuran dengan selang waktu 1 jam, pengukuran kedua dilakukan pada pukul 13.00 WIB. Sechidisk dimasukkan kedalam perairan dan diukur atau dicatat kedalaman saat pertama kali secchidisk tidak terlihat (d1), setelah itu secchidisk terus dimasukkan hingga benar-benar tidak terlihat dan tampak kembali untuk pertama kali dan dicatat kedalamannya (d2), pada masing-masing kedalaman diberi tanda, setelah itu diukur menggunakan penggaris. Selisih antar d1 dan d2 merupakan data kecerahan ke2 (D2).

4.2.2 Parameter Kimia
4.2.2.1 Derajat Keasaman (pH)
Pengukuran derajat keasaman (pH) dilakukan dengan menggunakan kertas pH universal, kertas pH biasa hanya untuk menunjukkan perairan basa atau asam, tetapi tidak menunjukkan nilai dari pH suatu larutan. Cara kerjanya yaitu kertas pH dicelupkan kedalam sampel hingga melewati keempat strip yang terdapat pada kertas pH, setelah itu dikibas-kibaskan tetapi tidak sampai kering. Selanjutnya warna pada kertas pH dicocokkan dengan warna yang terdapat pada kotak standart dan dicatat nilai pH-nya.




4.2.2.2 Salinitas
Alat yang digunakan dalam pengukuran salinitas ini adalah refraktrometer. Sebelum digunakan membran pada refraktometer dibersihkan dengan menggunakan aquades dan dikeringkan menggunakan kertas tissue. Sampel diambil menggunakan pipet tetes, sampel diteteskan pada permukaan membran ± 2 tetes, kemudian membran ditutup dengan kaca penutup. Refraktometer dihadapkan pada sumber cahaya dan diintip lewat lubang lensa, dicatat nilai salinitas yang tertera pada skala sebelah kanan. Setelah itu membran refraktometer dicuci kembali menggunakan aquades dan dikeringkan menggunakan tissue.

4.2.2.3 Oksigen Terlarut
Pada praktikum pengukuran kadar oksigen terlarut alat-alat yang digunakan yaitu water sampler, botol DO, buret, statif, selang, pipet volume, corong, selang aerator. Bahan yang digunakan meliputi sampel air laut, H2SO4 pekat, MnSO4, NaOH+Kl, Natrium Thiosulfat, Amilum. Pertama dilakukan pengukuran volume botol DO dan dicatat volumenya, setelah itu botol DO dimasukkan kedalam botol sampler dengan posisi selang masuk kedalam mulut botol DO. Setelah ditutup rapat botol sampler dimasukkan kedalam perairan hingga kedalaman yang diinginkan (setengah dari kedalaman pengukuran kecerahan). Setelah itu selang dibuka dan ditunggu hingga botol sampler penuh, selanjutnya botol sampler diangkat kepermukaan. Botol sampler dibuka, botol DO ditutup dengan hati-hati agar tidak terdapat gelembung udara, setelah ditutup botol dibolak-balik untuk memastikan tidak terjadi gelembung. Setelah itu sampel ditambahkan dengan 2 ml MnSO4 dan NaOH+Kl kedalam botol DO, diaduk-aduk hingga homogen, setelah itu didiamkan hingga terbentuk endapan berwarna coklat. Langkah selanjutnya air bening yang berada diatas endapan dibuang dengan menggunakan selang aerator. Setelah air dibuang endapan ditetesi 2 ml H2SO4 pekat dan diaduk-aduk, setelah homogen ditambahkan 4 tetes Amilum dan diaduk-aduk hingga berubah menjadi warna ungu, selanjutnya endapan dititrasi menggunakan Na2S2O3 0,025 N sampai tidak berwarna (bening) untuk pertama kali, dicatat volume titran sebelum dan sesudah titrasi. Langkah terakhir dihitung besar DO ( ) dengan menggunakan rumus :
DO=





4.3 Analisa Hasil
4.3.1. Parameter Fisika
4.3.1.1 Suhu
Dari hasil penagmatan suhu diperairan purbolinggo dengan menggunakan Thermometer Hg, didapatkan hasil 32 0C. Tingkat proses resksi biokimia tergantung pada suhu, suhu normal terjadi hokum Van Hoff’s (moncrief dan jones, 1977) dalam andayani (2005) yang menyatakan bahwa setiap 100C menaikkan suhu kira-kira dua kali tingkat reaksi.

4.3.1.2 Kecerahan
Dari hasil pengamatan diperairan probolinggo menggunakan secchi disk didapatkan hasil d1= 613 dan d2= 549, maka didapatkan nilai kecerahan 581. Dapat disimpilkan bahwa kecerahan pada daerah tersebut adalah baik. Sri Andayani (2005) penetrasi cahaya dalam perairan dipenguhi oleh besarnya tingkat partikel koloid terlarut (kekeruhan), dan umumnya plankton merupakan penyebab utama kekeruhan.

4.3.1.3 Pasang Surut
Dari hasil pengamatan diperairan purbolinggo dengan menggunakan tide staff didapat data t1 = 80 cm, t2 = 22 cm, sedangkan waktu pengukuran selama 5 jam, kecepatan pasang surut yaitu 11,6 m/s, lebar pasang surut maksimal 0,85 cm.
Menurut Romimohtarto (2001) pola pergerakan pasut ini terjadi karena perbedaann posisi suatu putr bumidan bulan, karena berbeda-bedanya posisi sumbu putar bumi dan bulan, arena perbedaan bentuk dasar laut dank arena banyak hal lain lagi.

4.3.1.4 Kecepatan Arus
Dari hasil pengamatan diperairan purbolinggo didapatkan data panjang tali 5 meter, waktu yang dibutuhkan (t) 43,7 detik. setelah itu perhitungan didapat hasil 0,11 m/s, dengan narah arus dari barat laut ke tenggara. menurut Hinckteg Etall (1991) diacu dalam Zottoli (2000) arus selalu berhungan dengan kedalaman. perubahan arah arus yang kompleks susunannya terjadi sesuai dengan makin berambahnuya kedalaman perairan.

4.3.1.5 Gelombang
dari hasil pengukuran gelombang dpada perairan purbolinggo menggunakan tongkat skala diukur 2 parameter yaitu tinggi gelombang dan priode gelomabng. pada pengukuran tinggi gelombang didapat pengukuran ke 1 puncak 48 cm, lembah 35 cm jadi selisihnya 5cm. pada pengukuran kedua didapat hasil puncak 42 cm, lembah 39 cm jadi selisihnya 3 cm. pada pengukuran ketiga didapat hasil puncak 40 cm, lembah 38 cm jadi selisihnya 2 cm, dan tinggi gelombang rata-rata yaitu 43,33 cm.
Pada pengukuran periode gelombang didapatkan hasil pada pengukuran pertama didapat 0,15 detik kedua 0,19 detik, dan ketiga 0,18 detik, dengan rata-rata 0,11 detik. Dari data tersebut dapat disimpulkan gelombang pada perairan probolinggo cepat karena kurang dari 1 detik dan tinggi gelombang sangat rendah.
Gelombang atau ombak yang terjadi dilkukan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkit. pembangkit gelombang laut disebabkan oleh : Angin (gelombang angin), gaya tarik-menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang surut), gempa (vulkanik dan tektonik) didasar laut (gelombang tsunami) ataupun gelombang yang disebabkan oleh kapal (Anonymous a, 2009).

4.3.1.6 Sifat Optis Air
dari hasil pengukuran diperairan probolinggo menggunakan secchi disk didapat kecerahan pada pukul 12.00 WIB yaitu 581 cm dan pada pukul 13.00 WIB yaitu 707,5 cm, dimana nilai oftisnya perjam yaitu 150 dan sudut yang dibentuk yaitu ∞ = 900 dan β = 1050 kecerahan yang paling tinggi pada pukul 13.00 WIB dengan kecerahan 707,5 cm.

4.3.2 Parameter Kimia
4.3.2.1 pH
Dari hasil pengukuran diperairan purbolinggo menggunakan pH paper didapt hasil yaitu 9. pH diperairan purbolinggo yaitu bersifat basa. nilai pH berkisar dari 0 hingga 14. Suatu larutan dikatakan netral apabila mendekati nilai pH 7. Nilai pH >7 menunjukan larutan memiliki sifat basa, sedangkan pH <7 menunjukkan asam (Anonymous c, 2009).

4.3.2.2 Salinitas
dari hasil pengukuran diperairan purbolinggo didapat nilai salinitas yaitu 30 ppt. Menurut Anonymousa (2005) air laut mengandung ,5 garam-garam.Gas terlarut bahan-bahan organic da partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat oftis air laut (seperti : densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperature dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetepi tidak menentukannya. Beberapa tingkat, tetapi terpengaruh secara signifikan oleh salinitas dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam dilaut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.



4.3.2.3 DO
dari hasil pengukuran diperairan purbolinggo didapat hasil adalh 5,87 mg/l. Menurut Sri Andayani (2005), kelarutan okeigen dalamair dipengaruhi peubah lain seperti temperatur, kadar garam maupun bahan organic terlarut menurunkan konsentrasi jenuh oksigen terlarut. Peningkatan kecrahan menaikkan konsentrasi oksigen terlarut pada siang hari untuk menurunkannya pada malam hari.

4.4 Manfaat dibidang perikanan
4.4.1 Parameter Fisika
 Suhu
Dapat mengetahui suhu perairan dipantai dan suhu rata-rata perairan.

 Kecerahan
Mengetahui tingkat kecerahan pada perairan dan Mengetahui tingkat penetrasi cahaya masuk kedalam perairan.

 Gelombang
Mengetahui tinggi dan rendah (puncak & lembah) gelombang diperairan
Mengetahui tinggi gelombang rata-rata perairan.

 Sifat oftis air
Mengetahui tingkat kecerahan paling tinggi diperairan.

 Pasang surut
Mengetahui kapan waktu pasang surut terjadi
Mengetahui tinggi air pasang tertinggi dan tinggi air pada surut terendah

 Kecepatan arus
Mengetahui kecepatan arus pada perairan laut
Mengetahui arah arus yang dating dan arus yang pergi

4.4.2 Parameter Kimia
 pH
Mengetahui tingkat atau nilai kesaaman atau kebasaan suatu perairan

 DO
Mengetahui tingkat kadar oksigen terlarut yang terdapat di perairan

 Salinitas
Mengetahui tingkat kadar garam yang terdapat diperairan.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum adalah:
 oseanografi merupakan suatu kajian yang membahas mengenai lautan yang didalamnya terdapat unsur-unsur atau proses.
 Oseanografi dipengaruhi oleh faktor fisika dan faktor kimia.
 Faktor fisika
- Suhu : Derajat tingkat temperatur yang mempunyai keadaan lingkungan baik aktifitas metabolisme atau perkembangan organisme tersebut.
- Kecerahan : Konsentrasi penetrasi cahaya yang masuk kedalam perairan.
- Pasung surut : Keadaan tinggi rendahnya air laut yang hampir teratur
- Gelombang : Gerakan naik dan turunnya air secara bergantian

- Kecepatan arus : Gerakan air yang dipengaruhi oleh angin yang mengakibatkan perpindahan massa air.
- Sifat Optis Air : Merupakan penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan baik diteruskan atau pun di hamburkan.
 Faktor kimia
- pH : Derajat nilai keasaman atau kebasaan pada perairan.
- Salinitas : Kadar garam yang terdapat pada arus laut.
- DO : Kadar oksigen terlarut yang terdapat di perairan.








Parameter Hasil
Suhu 32 0C
Kecerahan 581 cm
Pasang surut :
1. Kecepatan pasang surut
2. Lebar pasang surut maksimal
3. Tipe pasang surut
11.6 cm/jam

0.58 m

semidiurnal
Gelombang rerata 0.17
Kecepatan arus 0.11 m/detik
Sifat optis β 1050
pH 9
Salinitas 30 ppt
DO (Oksigen terlarut) 5.67 mg/l

5.2 Saran
Dalam praktikum sebaiknya diefesienkan waktu agar praktikum dapat mengikuti dengan baik, materi yang dipraktikumkan sebaiknya disampaikan dengan baik dan koordinasi antara asisten praktikum dan praktikan dapat lebih ditingkatkan.



DAFTAR PUSTAKA


Anonymousa,2009.Kecerahan.http://www.Shantybio.transdigit.com. Diakses 31 Mei 2009 pukul 18.00 WIB.

Anonymousb,2009.KualitasBudidaya.http://SMK3ae.wordpress.com. Diakses 31 Mei 2009 pukul 18.30 WIB.

Anonymousc, 2009. DO. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 30 Mei 2009 pukul 19.00 WIB.

Andayani S. 2005. Kualitas Air. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.

Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. PT. Gramedia. Jakarta.

Bayard, H dan Zottoli, P. 1983. Pengantar Biologi Laut. Mosbycompany. London.

Geocities. 2009. Parameter Air. http://www.geocities.com. Diakses 29 Mei 2009. Pukul 18.30 WIB.

Hutabarat, S. E. 1985. Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta.

Nontji, A. 1986. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nyabakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta.

Romimohterto, K dan Juwana, S. 2001. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta

Supriyadi.2002.OksigenTerlarut.http://www.raya4.papua.com. Diakses 28 Mei 2009 pukul 18.00 WIB.
Widiyati, A. 2005. Pemeliharaan Larva Ikan Koi. http://www.Ikanlaut.unsoed.ac.id. Diakses tanggal 28 mei 2009 Pukul 18.30 WIB.

Wikipedia. 2009. Sifat Optis Air. http://id.wikipedia.org. Diakses tanggal 29 Mei Pukul 19.00 WIB.

Zottoli.Connoughey.2000.Pengantar Biologi Laut. Themosby Company. London.



LAPORAN PRAKTIKUM
OSEANOGRAFI

Disusun oleh :

1. Nurwahida Ari W 0810820046
2. Saba Diego Ely 0810820050
3. Iwan 0810843004
4. Bagus Arianto 0810843006
5. Anggit Juliadi 0810850028
6. Zainiyah Soffah 0810850061
7. Agung Azhar K 0810852009
8. Fitri Sukmaningtyas 0810853005
9. Ady Surya 0810860001









FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar